Categories

A sample text widget

Etiam pulvinar consectetur dolor sed malesuada. Ut convallis euismod dolor nec pretium. Nunc ut tristique massa.

Nam sodales mi vitae dolor ullamcorper et vulputate enim accumsan. Morbi orci magna, tincidunt vitae molestie nec, molestie at mi. Nulla nulla lorem, suscipit in posuere in, interdum non magna.

Mengapa koleksi digital harus dipreservasi?


Oleh : Irma Elvina

I. Pendahuluan

Era digital berkembang ditandai dengan munculnya tiga teknologi, yaitu: komputer, komunikasi dan multimedia. Perkembangan ketiga teknologi telah membuat muatan informasi atau pesan dalam komunikasi tidak lagi hanya berupa teks, angka, gambar saja, melainkan dapat berupa suara, atau bahkan berupa gambar yang bergerak (film, video) tak ubahnya menikmati siaran langsung seperti melalui stasiun radio atau siaran televisi. Bahkan dengan perkembangan teknologi yang mampu memampatkan ukuran data atau informasi untuk kemudian diurai kembali setelah sampai di tujuan, membuat transfer informasi dan data dapat menjadi lebih cepat. Selain mempercepat proses dalam aktivitas sehari-hari, format data digital juga mempermudah aktivitas pelayanan kepada masyarakat.

Media tempat menyimpan informasi digital selalu mengalami degradasi dan bisa rusak tanpa pemberitahuan sama sekali. Perangkat keras dan lunak seringkali ketinggalan zaman tanpa kita sadari. Karena itu perlu diperhatikan manajamen daur hidup (lifecycle management) koleksi digital yang disimpan.

Semakin besar volume dan kompleksitas dokumen digital, maka akan mulai timbul masalah, diantaranya: pemeliharaan koleksi, temu kembali informasi (information retrieval), dan klasifikasi. Solusi yang bisa dilakukan antara lain: pembuatan prosedur standar untuk pemeliharaan koleksi, pemeliharaan sistem temu kembali informasi (perbaikan algoritma), dan pembuatan tesaurus.

Perkembangan teknologi digital serta internet saat ini telah memberi kemudahan untuk melakukan akses serta mendistribusikan berbagai informasi dalam format digital. Beberapa faktor yang membuat data digital (seperti audio, citra, video dan text) banyak digunakan antara lain :

• Mudah diduplikasi dan hasilnya sama dengan aslinya.

• Murah untuk penduplikasian dan penyimpanan,

• Mudah disimpan dan kemudian untuk diolah atau diproses lebih lanjut,

• Serta mudah didistribusikan, baik dengan media disk maupun melalui jaringan seperti internet

2. Format dokumen digital

Dokumen digital adalah segala sesuatu yang dapat diberikan nama file dan disimpan dalam elektronik[1]. Dokumen digital sebenarnya dapat dipahami sebagai koleksi informasi dalam bentuk elektronik atau digital yang mungkin terdapat juga dalam koleksi cetak, yang dapat diakses secara luas menggunakan media komputer dan sejenisnya. Koleksi digital disini dapat bermacam-macam, dapat berupa buku elektronik, jurnal elektronik, database online, statistik elektronik, dan lain sebagainya.

Asal dokumen digital:

  1. Digitized materials. Mungkin masih tersedia dokumen aslinya.
  2. Natively digital (born digital). Mungkin tidak tersedia dalam format lain selain digital (web of linkages, multimedia, etc.)

Ada beberapa format penyimpanan data dokumen digital, seperti format HTML, XML, SGML, dokumen-dokumen yang dibuat dengan menggunakan aplikasi yabg berbasis Windows, Linux, dsb, akan tetapi yang paling popular adalah PDF atau Portable Document Format. Merupakan salah satu jenis format yang mampu menyimpan dokumen dengan rapi, mudah dibaca dan menyerupai hasil cetakan di kertas. PDF merupakan jawaban bagi orang-orang yang menginginkan dokumen hasil kerjanya dapat dibaca tanpa perubahan tata letak sehingga dokumen berformat PDF banyak digunakan sebagai format file yang dipertukarkan atau didistribusikan secara aman dalam bentuk digital.

Format ini pertama kali dikenalkan oleh Adobe System Inc (http://www.adobe.com), hasil dari pengembangan Dr. John Warnock di awal tahun 90-an, dokumen di dalam perusahaan yang dapat ditampilkan di berbagai platform komputasi.

Ada beberapa hal yang menyebabkan format PDF ini popular, yaitu :

1. Universal dan Lintas Platform, dokumen PDF dapat dibaca di berbagai platform, bahkan dapat dibaca secara online melalui browser yang telah dilengkapi dengan plug-in pembaca PDF. Utility dan virtual-printer driver untuk membuat dokumen PDF pun banyak tersedia. Ini menyebabkan dokumen PDF dapat digunakan secara luas di seluruh dunia.

2. Yang Anda Lihat, Yang Anda Dapatkan. Berbeda dengan format HTML yang digunakan untuk menampilkan halaman web, PDF lebih dapat menjamin apa yang ditampilkan pada monitor, maka serupa itu pula yang akan kita dapatkan jika dokumen dicetak. Pada format HTML, maka hasil cetakan bisa jadi akan berbeda dengan yang tampak di monitor, bahkan dokumen yang tampak di monitor pun bisa jadi berbeda-beda tergantung dari resolusi maupun browser yang digunakan.

3. Hemat ukurannya. Secara native file PDF telah dikompresi sedemikian rupa sehingga filenya berukuran relatif kecil. Kecilnya ukuran file PDF ini menyebabkan PDF populer digunakan untuk tukar-menukar dokumen lewat internet karena tidak memboroskan bandwidth yang digunakan untuk koneksi.

4. Pengamanan dokumen dapat diandalkan, karena PDF juga memiliki fitur pengamanan dokumen dari kemungkinan pencurian isi, duplikasi, dan pencetakan dokumen oleh yang tidak berhak.

3. Mengapa dokumen digital perlu dipreservasi

Preservasi dokumen digital adalah proses memilih, mengadakan, mengolah, melayankan, serta memelihara dokumen/data digital sehingga dapat dimanfaatkan dalam waktu yang lama secara internal oleh public sesuai dengan kaidah, norma dan kode etik yang berlaku, (Mustofa, 2008)[2]

Tiga jenis preservasi digital yaitu;

1. Preservasi terhadap media yang menyimpan dokumen digital (tape, disk, optical disk, cd/dvd dll).

2. Preservasi software dan format penyimpanan.

Preservasi terhadap isi dokumen

Preservasi data/dokumen digtital menjadi hal penting karena hal berikut;

  1. akumulasi data yang tak terkendali
  2. kerusakan data tanpa sengaja
  3. pengubahan data tanpa hak
  4. kelangkaan metadata dan sistem dokumentasi
  5. kelangkaan metadata dan sistem dokumentasi
  6. bentuk data elektronik yang tidak dapat dipreservasi
  7. kelangkaan mekanisme untuk preservasi

Kegiatan mentransfer informasi tercetak ke bentuk digital seolah menjadi kesibukan utama perpustakaan besar Indonesia pada dasawarsa terakhir ini. Entah berapa ratus ribu bahkan jutaan gigabyte dokumen yang telah dijadikan digital di beberapa perpustakaan besar Indonesia. Tidak itu saja, mereka membuat pangkalan data referensi seperti katalog online, indeks subyek, dan sarana pencari informasi digital lainnya. Belum lagi jurnal elektronik, peta digital, data, atau dokumen kelabu (dokumen pemerintah yang tidak diterbitkan untuk umum) yang mereka koleksi dalam bentuk digital.

Dokumen digital rentan kerusakan dalam arti tidak dapat terbaca atau tak bisa diakses lagi. Barangkali keadaan ini bakal berubah menjadi bom waktu yang mengancam kelangsungan hidup perpustakaan digital.

Masalah kedua adalah perkembangan peranti keras diikuti peranti lunak yang berubah versi dengan cepatnya. Kemudian versi lama tidak bisa membaca informasi pada versi baru. Dunia digital Indonesia bergeming dengan ancaman tersebut dan kegiatan digitasi sepertinya mengalir begitu saja. Memang, selain kendala dalam hal mesin, dalam kasus tertentu dokumen digital terasa lebih mahal jika kita harus mencetaknya.

William LeFurgy manajer proyek digital initiatives dari Library of Congress: yang dikutip dari artikel “Keeping our bits about us” oleh Stephen Manes dalam Forbes Asia, edisi bulan Februari 2006., “Orang terus menerus mengumpulkan foto dan musik, dan surat pajak dan korespondensi pribadi dalam bentuk digital. Kelak disk penyimpannya akan berhenti berfungsi. Jika anda belum bikin back-up, ya hilanglah semuanya.” Jika masalah ini dikalikan satu milyar atau lebih kali, maka anda akan memahami tantangan preservasi informasi yang lahir dalam bentuk digital – yaitu segala sesuatu yang mulai hidupnya sebagai 1 dan 0 elektronik.

“Bukan hal yang luar biasa bila orang dapat melihat dokumen tercetak yang sudah berusia 200 tahun,” kata Clifford Lynch, direktur eksekutif Coalition for Networked Information. “Di dunia tradisional banyak obyek akan survive lama sekali meski ditelantarkan. Obyek digital hanya akan survive bila orang membuat rencana dan dengan sistematis memikirkan kelangsungan hidup obyek tersebut secara berkelanjutan.” Masalah-masalah sekitar warisan digital kita sudah menjadi begitu kompleks sehingga sedang dilakukan berbagai upaya oleh kalangan perguruan tinggi, institusi, dan bisnis, untuk mengembangkan cara untuk melestarikan data yang diciptakan dalam bentuk digital. Tujuannya: agar data tersebut masih dapat dipahami puluhan dan ratusan tahun kedepan.

Library of Congress tengah melaksanakan proyek National Digital Information Infrastrucure & Preservation Project yang bernilai $100 juta yang berjangka waktu sepuluh tahun lamanya. Proyek ini diadakan untuk merancang strategi-strategi preservasi digital. Di masa mendatang para pencari informasi minimal memerlukan metode-metode untuk mengekstraksi informasi dari media penyimpan yang sekarang sudah ada, dan yang kelak akan ada. Sarana macam ini pada suatu saat pasti tidak tersedia lagi atau tidak dapat dipakai lagi. Kapan misalnya, anda terakhir melihat suatu floppy disk drive? Suatu organisasi atau lembaga yang sangat memperhatikan preservasi koleksi digitalnya akan selalu memindahkan informasi dari sistem lama ke yang lebih baru secara teratur. Perusahaan Corbis milik Bill Gates, misalnya, menyimpan 73 terabyte – 73.000 gigabyte – citra (image) di hard drives yang mereka upgrade berdasarkan suatu jadwal tiga tahunan.

Menyimpan bits mungkin bagian termudah dari upaya preservasi. Lebih sulit adalah membuat bits itu masih bisa dipakai (dibaca, dilihat, didengar), karena untuk ini dibutuhkan perangkat keras dan lunak yang dulu digunakan untuk menciptakan bits tersebut. Domesday project dari BBC, suatu rekaman kehidupan di Inggris, memakan biaya $4.2 miljar saat dibuat tahun 1986. Lima belas tahun kemudian untuk restorasi rekaman ini harus dilakukan rekonstruksi komputer dan piranti pemutar laser-disk yang sudah usang (obsolete), rekayasa terbalik perangkat lunak dan penulisan program baru. Washington State Archives menyimpan suatu perpustakaan berisi benda peninggalan lama, dalam hal ini hardware dan software kuno. Sekarang disana sedang dilakukan upaya mengumpulkan missing links yang sering terlupakan, yakni buku-buku panduan dan buku-buku how-to untuk hard ware dan software kuno itu.

Kadang-kadang suatu software bisa menjadi pengganti hardware. Berkat software emulators ribuan game kuno dapat dimainkan pada komputer zaman ini. Namun anehnya, hal yang kelihatannya sederhana, seperti misalnya menerjemahkan format file, bisa gagal terus-terusan. Contohnya, belum ada program pengolah kata saingan yang bisa menampilkan setiap butir file Microsoft Word dengan sempurna. Strategi baru ialah preservasi dan ekstraksi rekaman elektronik “bebas dari ketergantungan pada perangkat keras atau lunak spesifik”. Demikian keterangan dari National Archives dari Amerika Serikat. Jika kita melihat banyaknya dan beragamnya sumber daya yang kini diciptakan dalam bentuk digital (sumber daya yang born digital), jelas ini tugas yang bukan main sulitnya.

Satu kunci untuk memperkecil pentingnya perangkat keras dan lunak asli adalah metadata, yaitu data tambahan yang mendeskripsikan informasi digital tersebut, dan menjelaskan bagaimana menggunakannya. Sambil menunggu situasi yang ideal itu, metadata yang lebih sederhana dapat membantu pemakai mencari dan menemukan isi (content) yang lahir dalam bentuk digital. Informasi seperti tanggal dan waktu yang menyertai file data dan pengirim/penerima yang menyertai e-mail, sebetulnya merupakan informasi deskriptif yang ditambah otomatis – artinya pengguna tidak perlu melakukan upaya tambahan. Sedangkan isi dari file berupa teks, bisa berfungsi sebagai metadata internal yang siap untuk pengindeksan otomatis. File berisi suara dan image menuntut lebih banyak upaya dari manusia penggunanya. Dalam konteks metadata ini berarti: kita harus menciptakan metadata yang lebih lengkap, mendetil dan akurat, agar file ini tetap bisa dimanfaatkan (didengar, dilihat) dan ditelusuri. Ada standar untuk metadata macam ini:

Di Amerika Serikat misalnya, peraturan baru dari U.S. Securities & Exchange Commission menetapkan bahwa rekaman transaksi para pedagang saham dan surat berharga yang berbentuk elektronik harus dilengkapi nomor seri, punya cap waktu dan harus disimpan pada media yang tidak bisa dihapus, tidak bisa ditimpa rekaman baru (nonrewritable), dan disimpan di lebih dari satu lokasi. Peraturan yang ketat, tetapi tidak begitu spesifik berlaku untuk rekaman medik. Media penyimpan sekarang begitu murah sehingga tidak menjadi masalah untuk menyimpan seterusnya segala sesuatu, asal saja kuantitasnya tidak terlalu besar. Ada proyek misalnya yang setiap hari menciptakan satu terabyte (seribu gigabyte) data setiap hari. Biaya menyimpan dan merawat koleksi sebesar itu masih tetap menjadi beban. Karena itu memutuskan apa yang perlu disimpan dan yang bisa dibuang, masih tetap menjadi masalah. Automasi mungkin akan menyederhanakan beberapa aspek preservasi digital. Situs web PodZinger dari BBN Tecnologies menggunakan perangkat lunak yang bisa mengalihkan suara ke teks, dan kemudian mengindeks teks podcast tersebut, sehingga isi podcast bisa ditelusuri. Perangkat lunak yang bisa menganalisis citra kelak memungkinkan citra dikatalog dan ditemukan kembali dengan intervensi manusia yang sangat minimal. Kelebihan digital lain adalah gampangnya menyimpan kopi-kopi dokumen di tempat yang berbeda-beda. Dengan demikian preservasi menjadi suatu cara yang jitu untuk menghindari akibat bencana seperti bencana tsunami yang meluluhlantakkan Aceh pada tanggal 25 Desember 2004.

4. Preservasi yang dapat dilakukan

Kerentanan media simpan adalah masalah yang perlu dicermati, walaupun teknologi ini selalu diperbarui. Penelitian terakhir tentang keawetan media magnetik menunjukkan pemakaiannya bisa 10-30 tahun jika ditangani dan disimpan dengan benar. Memang ada teknologi cakram optik yang menjanjikan produk yang tahan sampai 100 tahun, tapi ini masih dalam skala laboratorium dan belum teruji ketangguhannya jika diumbar di alam tropis dengan suhu dan kelembaban merupakan ancaman.

Sadar akan ancaman bom waktu pelestarian digital itu para pengelola informasi digital di negara maju seperti Amerika, berupaya menggalang kegiatan rutin untuk pemeliharaan aliran byte jangka panjang dan aksesibilitas kandungan intelektual sejalan dengan waktu dan perkembangan teknologi informasi. Pada November 2000, The Library of Congress harus bertindak cepat untuk mengarsipkan situs web yang berkaitan dengan Bill Clinton yang begitu mudah dibongkar orang. The Library of Congress sekarang ini malah menghabiskan US$ 100 juta untuk melestarikan informasi digital pemerintah. Di Belanda proyek NEDLIB berusaha mencari jalan untuk mengarsipkan bahan legal deposit. Sementara itu, British Library menganggarkan 20 juta pound sterling untuk penyimpanan digital. Di Indonesia, masalah ini merupakan masalah besar karena ketidakberdayaan dalam bidang finansial. Beberapa langkah pelestarian digital yang bisa diterapkan dengan biaya terjangkau barangkali adalah pertama pengadaan peranti keras yang sesuai dengan spesifikasi disusul dengan prosedur operasi yang benar dan pemeliharaan yang rutin.

Intinya, menjaga agar peranti keras dan lunak tetap bisa mengoperasikan data. Jika suatu ketika terjadi perkembangan versi yang tidak dapat dihindari bisa diadakan migrasi, atau memformat data kembali. Tentunya migrasi tanpa membuat skala prioritas, akan menjadi proses yang mahal karena memerlukan waktu dan tenaga yang tidak sedikit.

Salah contoh korban keusangan teknologi adalah floopy disk ukuran 5.25 inch, dimana pada saat ini sudah jarang sekali ditemukan CPU komputer yang menyediakan drive untuk membaca floopy disk tersebut.

Ada beberapa solusi/tindakan yang dapat dilakukan untuk melindungi dokumen digital tersebut, yaitu :

  1. Refresing, yaitu men-copy file-file digital dari satu media penyimpanan ke media penyimpanan lain akan tetapi masih akan tetapi masih dalam satu jenis. Misalnya melakukan pemindahan data dari CD ke CD yang lain
  2. Migrasi atau migration, yaitu mentransfer data digital dari satu konfigurasi hardware/software kebentuk yang lainnya atau dari satu komputer ke generasi komputer yang lebih baru
  3. Emulasi (emulation), yang membuat peranti keras atau peranti lunak yang akan menirukan fungsi hardware dan software lain agar program berjalan, seperti komputer Macintosh menjalankan software Windows. Pekerjaan ini dinamakan emulasi dengan data disimpan dalam format aslinya, peranti lunak disimpan dengan dokumentasi penuh, peranti keras dibuat untuk meniru mesin asli.

Pengelola perpustakaan digital dapat memilih diantara ketiga solusi di atas mana yang cocok untuk digunakan dan sesuai dengan budget yang tersedia.

5. Penutup

Kahle, tokoh Internet Archive, memandang akses yang mudah ke data digital sebagai alasan utama untuk preservasi. “Akses,” demikian katanya, “mendorong preservasi.” Setelah masalah-masalah dipilah-pilah dan satu persatu dicari solusinya, mungkin hasil paling berarti dari preservasi digital adalah berkolaborasi dengan World Wide Web dan dengan demikian membuka dunia-dunia yang selama ini tersembunyi, tapi penuh informasi bagi sejarawan, ahli genealogi, ilmuwan, pengarang, musikus dan videografer hari ini dan esok.

Tujuan preservasi data /dokumen digital sebenarnya adalah memastikan informasi yang tersimpan dalam media digital tersebut tetap dapat diakses oleh siapapun yang memerlukannya baik di masa kini ataupun di masa yang akan datang.

Karena itu ketika akan melakukan digitalisasi dokumen, hendaknya sudah dipikirkan pula preservasi dokumen yang akan dilakukan. Indonesia dikenal sebagai bangsa yang senang membuat atau membangun sesuatu yang bagus dan menarik akan tetapi tidak pandai merawatnya sehingga akhirnya menjadi rusak.

Bahan bacaan

——–. 2007. Mengenal PDF

http://www.pegadaianyogya.com/download/mengenal_pdf.pdf (diunduh tgl 20 Februari 2008)

Ardiansyah, Firman. 2008. Materi Kuliah Dokumen Digital. Bogor: Program S2 MTIP IPB.

Digital Preservation. http://en.wikipedia.org/wiki/Digital_preservation (diundu tgl. 14 Januari 2008

Hedstrom, Margaret. Digital preservation: a time bomb for Digital Libraries

Lazinger, Susan S. 2001. Digital Preservation and Metadata: History, Teory and Practice. Colorado, Libraries Unlimited

Manes, Stephen . 2006 .Keeping Our Bits About Us, https://www.keepmedia.com/Auth.do?extId=10022&uri=/archive/forbes/2006/0227/060. (diunduh tgl 20 Februari 2008)

Mustafa. B. 2008. Materi Kuliah Preservasi Dokumen Digital. Bogor: Program S2 MTIP IPB.

Leave a Reply

  

  

  

You can use these HTML tags

<a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>